Minggu, 30 Juni 2013

Dasar dasar listrik

Dasar-dasar listrik

1. Arus Listrik

adalah mengalirnya elektron secara terus menerus dan berkesinambungan pada konduktor akibat perbedaan jumlah elektron pada beberapa lokasi yang jumlah elektronnya tidak sama. satuan arus listrik adalah Ampere. 

Arus listrik bergerak dari terminal positif (+) ke terminal negatif (-), sedangkan aliran listrik dalam kawat logam terdiri dari aliran elektron yang bergerak dari terminal negatif (-) ke terminal positif(+), arah arus listrik dianggap berlawanan dengan arah gerakan elektron.



Gambar 1. Arah arus listrik dan arah gerakan elektron.

“1 ampere arus adalah mengalirnya elektron sebanyak 624x10^16 (6,24151 × 10^18) atau sama dengan 1 Coulumb per detik melewati suatu penampang konduktor” 
Formula arus listrik adalah: 

I = Q/t (ampere)

Dimana:
I = besarnya arus listrik yang mengalir, ampere
Q = Besarnya muatan listrik, coulomb
t = waktu, detik

2. Kuat Arus Listrik

Adalah arus yang tergantung pada banyak sedikitnya elektron bebas yang pindah melewati suatu penampang kawat dalam satuan waktu.

Definisi : “Ampere adalah satuan kuat arus listrik yang dapat memisahkan 1,118 milligram perak dari nitrat perak murni dalam satu detik”.

Rumus – rumus untuk menghitung banyaknya muatan listrik, kuat arus dan waktu:

Q = I x t
I = Q/t
t = Q/I

Dimana :
Q = Banyaknya muatan listrik dalam satuan coulomb
I = Kuat Arus dalam satuan Amper.
t = waktu dalam satuan detik.

“Kuat arus listrik biasa juga disebut dengan arus listrik”

“muatan listrik memiliki muatan positip dan muatan negatif. Muatan positip dibawa oleh proton, dan muatan negatif dibawa oleh elektro. Satuan muatan ”coulomb (C)”, muatan proton +1,6 x 10^-19C, sedangkan muatan elektron -1,6x 10^-19C. Muatan yang bertanda sama saling tolak menolak, muatan bertanda berbeda saling tarik menarik”
3. Rapat Arus

Difinisi :
“rapat arus ialah besarnya arus listrik tiap-tiap mm² luas penampang kawat”.



Gambar 2. Kerapatan arus listrik.

Arus listrik mengalir dalam kawat penghantar secara merata menurut luas penampangnya. Arus listrik 12 A mengalir dalam kawat berpenampang 4mm², maka kerapatan arusnya 3A/mm² (12A/4 mm²), ketika penampang penghantar mengecil 1,5mm², maka kerapatan arusnya menjadi 8A/mm² (12A/1,5 mm²).

Kerapatan arus berpengaruh pada kenaikan temperatur. Suhu penghantar dipertahankan sekitar 300°C, dimana kemampuan hantar arus kabel sudah ditetapkan dalam tabel Kemampuan Hantar Arus (KHA).



Tabel 1. Kemampuan Hantar Arus (KHA)

Berdasarkan tabel KHA kabel pada tabel diatas, kabel berpenampang 4 mm², 2 inti kabel memiliki KHA 30A, memiliki kerapatan arus 8,5A/mm². Kerapatan arus berbanding terbalik dengan penampang penghantar, semakin besar penampang penghantar kerapatan arusnya mengecil.

Rumus-rumus dibawah ini untuk menghitung besarnya rapat arus, kuat arus dan penampang kawat:

J = I/A
I = J x A
A = I/J

Dimana:
J = Rapat arus [ A/mm²]
I = Kuat arus [ Amp]
A = luas penampang kawat [ mm²]


4. Tahanan dan Daya Hantar Penghantar

Penghantar dari bahan metal mudah mengalirkan arus listrik, tembaga dan aluminium memiliki daya hantar listrik yang tinggi. Bahan terdiri dari kumpulan atom, setiap atom terdiri proton dan elektron. Aliran arus listrik merupakan aliran elektron. Elektron bebas yang mengalir ini mendapat hambatan saat melewati atom sebelahnya. Akibatnya terjadi gesekan elektron denganatom dan ini menyebabkan penghantar panas. Tahanan penghantar memiliki sifat menghambat yang terjadi pada setiap bahan.

Tahanan didefinisikan sebagai berikut :

“1 Ω (satu Ohm) adalah tahanan satu kolom air raksa yang panjangnya 1063 mm dengan penampang 1 mm² pada temperatur 0° C"

Daya hantar didefinisikan sebagai berikut:

“Kemampuan penghantar arus atau daya hantar arus sedangkan penyekat atau isolasi adalah suatu bahan yang mempunyai tahanan yang besar sekali sehingga tidak mempunyai daya hantar atau daya hantarnya kecil yang berarti sangat sulit dialiri arus listrik”.

Rumus untuk menghitung besarnya tahanan listrik terhadap daya hantar arus:

R = 1/G
G = 1/R

Dimana :
R = Tahanan/resistansi [ Ω/ohm]
G = Daya hantar arus /konduktivitas [Y/mho]



Gambar 3. Resistansi Konduktor

Tahanan penghantar besarnya berbanding terbalik terhadap luas penampangnya dan juga besarnya tahanan konduktor sesuai hukum Ohm.

“Bila suatu penghantar dengan panjang l , dan diameter penampang q serta tahanan jenis ρ (rho), maka tahanan penghantar tersebut adalah” :

R = ρ x l/q

Dimana :
R = tahanan kawat [ Ω/ohm]
l = panjang kawat [meter/m] l
ρ = tahanan jenis kawat [Ωmm²/meter]
q = penampang kawat [mm²]

faktot-faktor yang mempengaruhi nilai resistant atau tahanan, karena tahanan suatu jenis material sangat tergantung pada :
• panjang penghantar.
• luas penampang konduktor.
• jenis konduktor .
• temperatur.

"Tahanan penghantar dipengaruhi oleh temperatur, ketika temperatur meningkat ikatan atom makin meningkat akibatnya aliran elektron terhambat. Dengan demikian kenaikan temperatur menyebabkan kenaikan tahanan penghantar"


5. potensial atau Tegangan

potensial listrik adalah fenomena berpindahnya arus listrik akibat lokasi yang berbeda potensialnya. dari hal tersebut, kita mengetahui adanya perbedaan potensial listrik yang sering disebut “potential difference atau perbedaan potensial”. satuan dari potential difference adalah Volt.

“Satu Volt adalah beda potensial antara dua titik saat melakukan usaha satu joule untuk memindahkan muatan listrik satu coulomb”

Formulasi beda potensial atau tegangan adalah:

V = W/Q [volt]

Dimana:
V = beda potensial atau tegangan, dalam volt
W = usaha, dalam newton-meter atau Nm atau joule
Q = muatan listrik, dalam coulomb


RANGKAIAN LISTRIK

Pada suatu rangkaian listrik akan mengalir arus, apabila dipenuhi syarat-syarat sebagai berikut :
1. Adanya sumber tegangan
2. Adanya alat penghubung
3. Adanya beban



Gambar 4. Rangkaian Listrik.

Pada kondisi sakelar S terbuka maka arus tidak akan mengalir melalui beban . Apabila sakelar S ditutup maka akan mengalir arus ke beban R dan Ampere meter akan menunjuk. Dengan kata lain syarat mengalir arus pada suatu rangkaian harus tertutup.

1. Cara Pemasangan Alat Ukur.
Pemasangan alat ukur Volt meter dipasang paralel dengan sumber tegangan atau beban, karena tahanan dalam dari Volt meter sangat tinggi. Sebaliknya pemasangan alat ukur Ampere meter dipasang seri, hal inidisebabkan tahanan dalam dari Amper meter sangat kecil.

“alat ukur tegangan adalah voltmeter dan alat ukur arus listrik adalah amperemeter”
2. Hukum Ohm 
Pada suatu rangkaian tertutup, Besarnya arus I berubah sebanding dengan tegangan V dan berbanding terbalik dengan beban tahanan R, atau dinyatakan dengan Rumus :

I = V/R
V = R x I
R = V/I

Dimana;
I = arus listrik, ampere
V = tegangan, volt
R = resistansi atau tahanan, ohm

• Formula untuk menghtung Daya (P), dalam satuan watt adalah:
P = I x V
P = I x I x R
P = I² x R

3. HUKUM KIRCHOFF 

Pada setiap rangkaian listrik, jumlah aljabar dari arus-arus yang bertemu di satu titik adalah nol (ΣI=0).



Gambar 5. loop arus“ KIRChOFF “

Jadi:
I1 + (-I2) + (-I3) + I4 + (-I5 ) = 0
I1 + I4 = I2 + I3 + I5 



Sabtu, 29 Juni 2013

HD 785 "Eror 02 Co 31 Accelerator pedal abnormality"

huft tak habis pikir aku habis OVH harness General DT 740 malah eror,gak ketemu lagi selama 2 hari......
cukup mencoreng kualitas ku sebagai elektrician..ckckckckck,,,T.T

tapi hikmahnya ada disini...


dalam circuit Acclerator pedal ada jungtion berupa konektor PMS. Dimana Jungtion ini dibuat sebagai penganti controler Power Train Management System

huft aku cukup putus asa tapi lihat circuitnya....


besok akan saya tampilkan....
ini dolo biar ada tulisan walo dikit...heeheheh.....n.nv

Kamis, 27 Juni 2013

HD 785-7 " Warning Lamp ON saat Travel"

Sharing dolo ahh seputar kerjaan..

wah.....trouble aneh nih....
eror tanpa failure code dan tanpa service code....
ini terjadi pada DT 3256 (water tank)
di PT. Pama Persada Nusantara Site Adaro momok kalo unit water tank penuh dengan trouble aneh..,klo senior senior bilang mah wajar,unit kesiram air terusss


mari kita bahas satu persatu dari troublenya

Warning Lamp ON pada saat Travel, dalam artian Parking Brake posisi release dan shift lever dalam kondisi tidak netral, forward maupun reverse

kondisi ini tidak menggangu machine sama sekali namun sang operator akan terganggu dalam mengoprasikan unit karena menggangu konsentrasi dan juga hal ini menandakan ada kesalahan dalam sistem unit.

ada 10 penyebab hal ini mungkin terjadi
 besok akan saya tampilkan.....!!


30 juni 2013

trouble di temukan ternyata karena terjadi hot short pada Jungtion JRE yang di karenakan air.....


gambar dan circuitnya akan segera

Rabu, 26 Juni 2013

Rumus Menentukan Diameter Kabel

1.  Umum
Membahas  mengenai  media  transfer  energi  listrik,  maka  pembahasannya  tidak
terlepas dari kabel yang digunakan. Karena sejauh ini media untuk menghantarkan listrik,
khususnya  untuk  instalasi  tenaga  (power)  masih  membutuhkan  kabel  sebagai  media
penghantarnya,  meskipun  sesuai  dengan  yang  pernah  saya  baca  telah  ada  yang
menemukan  terobosan menggunakan wireless,  tapi  itupun belum banyak digunakan dan
masih dianggap oleh banyak kalangan sebagai sesuatu yang kurang efektif. Oleh karena
itu  landasan  teori  yang  akan  kita  gunakan  dalam  pembahasan  ini  adalah  mengenai
penentuan  diameter  kabel,  kemampuan  dalam  menghantarkan  arus  dan  rumus-rumus
yang digunakan.
Biasanya yang telah banyak dilakukan dalam menentukan diameter kabel untuk
perencanaan sebuah instalasi tenaga adalah dengan menggunakan tabel yang dikeluarkan
oleh pabrikan pembuat kabel tersebut.  Contoh tabel tersebut adalah sebagai berikut :

Akan tetapi bila diperhatikan  tabel dari antara pembuat kabel satu dengan lainnya
angkanya ada yang berbeda, walaupun tidak berbeda jauh. Hal itu bisa dimaklumi karena
dalam  memberi  toleransi  lebih  antara  orang  satu  dengan  lainnya  berbeda.  Perbedaan
angka  tersebut  juga  bergantung  dari  jenis  isolasi  kabel  yang  digunakan,  apakah  PVC
(polyvinyl chloride), TPE (thermo plastis elastomer) atau PUR (polyurithane). Perbedaan
tersebut  juga disebabkan oleh penempatan kabel, apakah ditempatkan di udara bebas, di
tanam dalam tanah atau dalam air.
Dengan bergantung pada tabel tersebut, tentunya sebagian dari kita sebagai orang
listrik  akan  timbul  ketidakpuasan.  Tidak  puas  karena  kita  pernah mempelajari  hukumhukum
  listrik  salah  satunya  adalah  hukum  ohm  yang  pastinya  akan  selalu  ber  korelasi
dengan  penentuan  diameter  kabel  listrik  dalam  kemampuaanya  membawa  arus.
Bagaimana  kalau  tegangan,  panjang  kabel,  jenis  konduktor  yang  akan  kita  gunakan
berbeda, apakah penggunaan tabel tersebut masih berlaku untuk kita jadikan acuan ?
Nah, ini yang akan kita bahas lebih lanjut dalam landasan teori ini.

3.2  Teori Pendukung
  3.2.1  Rumus untuk menentukan diameter kabel
Dalam merencana sebuah instalasi tenaga listrik, maka langkah awal setelah
kita  mengetahui  berapa  tegangan  listrik  serta  daya  yang  dibutuhkan  adalah
menentukan  diameter  kabel  yang  akan  digunakan.  Dibawah  ini  adalah  rumus
dalam menentukan diameter kabel :



Dari  rumus  diatas,  secara  garis  besar  dapat  kita  lihat  bahwa  penampang
kabel  berbanding  lurus  dengan  panjang  kabel  dan  berbanding  terbalik  dengan
tegangan, artinya semakin panjang kabel yang digunakan serta untuk memperoleh
tegangan  yang  konstan  maka  semakin  besar  pula  penampang  kabelnya.  Akan
tetapi pada prakteknya selalu ada saja rugi tegangan pada penghantar, maka dalam
rumus  diatas  disertakan  juga  rugi  tegangan  yang  kita  inginkan  (  ev  ),  yang
nantinya  rugi  tegangan  inilah  yang  akan  berhubungan  dengan  hukum  ohm,
menentukan  I  (arus)  yang dihasilkan.  Jenis konduktor yang dalam  rumus di atas
dituliskan  sebagai  y  atau  daya  hantar  jenis,  juga  akan menentukan  penampang
kabel,  56  untuk  daya  hantar  jenis  tembaga,  32,7  untuk  daya  hantar  jenis
alumunium dan 7 untuk daya hantar  jenis besi. Akan  tetapi  tembaga adalah  jenis
penghantar  yang  paling  umum  digunakan  maka  dalam  rumus  di  atas  yang
dituliskan adalah daya hantar jenis tembaga.

Contoh soal  1:
Sebuah  pemanas  heater  380  volt  10000  watt  rencananya  akan  disambungkan
dengan kabel tembaga dengan panjang 350 meter dari sumber listrik (panel), rugi
tegangan  yang  diinginkan  adalah  5  volt.  Hitung  berapa  diameter  kabel  yang
dibutuhkan ?
Penyelesaian :
q = ( L . N ) : ( y . ev . E )
q = (350 . 10.000) : ( 56 . 5 . 380 )
q = (3.500.000) : (106.400)
q = 32,8 mm2
Jadi, penampang kawat  tembaga  yang dibutuhkan untuk pemanas heater dengan
instalasi  sepanjang 350 meter adalah 32,8 mm  atau bila   memakai ukuran kabel
yang umum dijual di pasaran adalah dengan ukuran kabel 35 mm2

 3.2.2  Rumus untuk mengetahui resistansi (hambatan) dalam kabel
Hal yang perlu kita ketahui selanjutnya setelah menentukan diameter kabel
adalah mengetahui  resistansinya,  karena  seperti  yang  telah  kita  ketahui  bersama
bahwa  resistansi  inilah  dalam  hukum  ohm  nilainya  akan  berbanding  terbalik
dengan  tegangan  (V)  dan  arus  (I).  Rumus  untuk  mengetahui  resistansi  dalam
kabel adalah :

Karena pada umumnya yang kita ketahui pada kabel adalah diameter penampang,
sedangkan  untuk menggunakan  rumus  di  atas  harus  diketahui  luas  penampang,
maka kita dapat mencarinya dengan rumus :


Contoh soal 2 :
Dari  contoh  soal  no.1  di  atas,  selanjutnya  akan  dapat  kita  ketahui  berapa
resistansinya dengan memakai rumus 1.2 di atas.
Penyelesaian :


3.2.3  Hukum Ohm
Pada suatu rangkaian tertutup, seperti gambar dibawah ini :


Besarnya  arus  I  berubah  sebanding  dengan  tegangan V  dan  berbanding  terbalik
dengan beban tahanan R, atau dapat dinyatakan dengan rumus :


Contoh soal 3 :
Dari contoh soal gabungan no.1 dan 2 di atas dengan menggunakan hukum ohm,
maka kita akan dapat mengetahui kerugian daya listrik yang  ada pada penghantar
sepanjang 350 meter tersebut.

Untuk mengetahui rugi daya yang ada pada penghantar, maka yang kita gunakan
adalah R total, R total adalah penjumlahan R1 dan R2 yaitu = 14,4404332 + 0,175
= 14,6154332
Daya (P) keseluruhan setelah dihubungkan kabel  35  mm2  adalah = I2 . R
P total = 26,3152 .  14,6154332
P total = 692,479225 . 14,6154332
P total = 10120 watt

Rugi daya pada penghantar adalah P total – P beban = 10120 – 10000 = 120 watt
Jadi, dengan demikian dapat diketahui bahwa heater pemanas 10000 watt 380 volt
yang  dihubungkan  dengan  kawat  tembaga  diameter  32,8  mm2  sepanjang  350
meter, rugi dayanya  adalah sebesar 120  watt.

Disamping  faktor diatas,  rugi-rugi  listrik  juga dapat disebabkan oleh media  isolasi yang
tidak baik sehingga arus bocor mengalir. Perhitungan sama arus yang mengalir dikalikan
dengan  besarnya  dari  tahanan  tersebut.  Jika  seandainya  instalasi  kabel  heater  pemanas
diatas memakain  acuan  tabel, maka  kita  dapat  hitung  betapa  banyaknya  rugi-rugi  daya
listrik yang ditimbulkan.

3.3  Jenis Daya Listrik

3.3.1  Daya aktif
Untuk  tenaga  listrik nyata  (wujud)  yang dikeluarkan oleh  arus bolak-balik
yang mempunyai  fasa  adalah :
 
Dalam jumlah usaha nyata/ wujud yang dilakukan oleh arus dan tegangan bolakbalik
 yang mempunyai  fasa  yaitu sebesar :





3.3.2  Daya reaktif (VAR)
Adalah  daya  listrik  yang  secara  electric  bisa  diukur,  secara  vektor
merupakan  penjumlahan  vektor  dari  perkalian E  x  I  dimana  arus mengalir  pada
komponen  resistor  sehingga  arah vektornya  searah dengan  tegangan, dan vektor
yang  arah  90 deg  terhadap  tegangan,  tergantung  pada  beban  seperti  induktif  dan
kapasitif. Biasanya daya yang searah dengan tegangan disebut dengan daya aktif,
sedangkan yang lain disebut dengan daya reaktif.
Untuk  tenaga  listrik  reaktif  yang  dikeluarkan  oleh  arus  bolak-balik  yang
mempunyai  fasa dengan tegangan bolak-balik yaitu :
 
3.3.3  Segitiga daya
Dari  hal  tersebut  diatas,  maka  daya  listrik  yang  digambarkan  sebagai
segitiga siku-siku yang secara vektoris adalah penjumlahan daya aktif dan reaktif
dan sebagai resultannya adalah daya semu atau daya buta.







3.4  Macam – Macam Besaran Listrik dan Satuannya

3.4.1  Tabel Besaran Listrik

3.4.2  Tabel Satuan Turunan

                                                                  

Senin, 24 Juni 2013

Syarat Sekring (Fuse) :

1. Arus nominal sekering (current rating) adalah arus yang mengalir secara terus menerus tanpa terjadi panas yang berlebihan dan kerusakan2. Tegangan nominal (voltage rating) yaitu tegangan kerja antar konduktor yang diproteksi atau peralatan3. Time current protection yaitu suatu lengkung karakteristik untuk menentukan waktu pemutusan4. Pre arcing time adalah waktu yang diperlukan oleh arus yang besar untuk dapat meleburkan elemen sekering5. Arcing time adalah waktu elemen sekering melebur dan memutuskan rangkaian sehingga arus jatuh menjadi nol6. Minimum fusing current adalah suatu harga minimun dari arus yang akan menyebabkan elemen sekering beroperasi (melebur)7. Fusing factor adalah suatu perbandingan antara minimum fusing current dengan curret rating dari sekering. Umumnya sekering yang tergolong pada semi enclosed mempunyai faktor 2 dan untuk typeHRC mempunyai faktor serendah mungkin 1,28. Total operating time adalah waktu total yang diambil oleh sekering secara lengkap dapat mengisolasi dengan gangguan.9. Cut off ini adalah satuan fungsi yang penting sekering HRC. Jika elemen sekering melebur dan membatasi harga arus yang dicapai ini kita kenal dengan sebutan “arus cut off”10. Categori of duty. Sekering diklasifikasikan pada kategori kesanggupan dalam menangani gangguan sesuai dengan harga arus prospective pada rangkaian. Katagori A1 dan A2 untuk arus propectif. 1.O.kA dan 4.0 kA. Sedangkan untuk kategori AC3, AC4 dan AC5 untuk arus 16,5 kA, 33 kA dan 46 kA.
1. Semi enclosed type adalah type untuk arus dengan rating yang rendah dan category of duty yang rendah2. Cartridge type adalah merupakan type yang mempunyai kapasitas pemutusan yang tinggi (High-ruptring capacity) yang lebih dikenal dengan istilah HRC fuse.


Tipe Sekring (Fuse) :

Ada dua type dasar sekering :
1. Semi enclosed type adalah type untuk arus dengan rating yang rendah dan category of duty yang rendah

2. Cartridge type adalah merupakan type yang mempunyai kapasitas pemutusan yang tinggi (High-ruptring capacity) yang lebih dikenal dengan istilah HRC fuse.